Tri Adhianto Serukan Pentingnya Harmoni di Hari Nyepi Kota Bekasi

KILASPUBLIK.com – Perayaan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948 di Kota Bekasi berlangsung dengan penuh kekhusyukan sekaligus semangat kebersamaan.

Kegiatan ini dipusatkan di Pura Agung Tirta Buana yang berlokasi di Kelurahan Jakasampurna, Kecamatan Bekasi Barat.

Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto, hadir dalam perayaan tersebut dan secara simbolis melepas pawai ogoh-ogoh yang diikuti umat Hindu setempat.

Tradisi ini menjadi bagian penting dalam rangkaian penyambutan Nyepi, sebagai simbol pembersihan diri dari berbagai sifat negatif.

Pawai ogoh-ogoh merupakan bagian dari prosesi Bhuta Yajna, sebuah ritual yang memiliki makna menjaga keseimbangan antara manusia dan alam.

Patung ogoh-ogoh yang diarak menggambarkan sifat-sifat buruk manusia, seperti amarah, keserakahan, dan nafsu duniawi, yang diharapkan dapat disucikan menjelang hari raya.

BACA JUGA :  Pemerintah Prioritaskan Penataan 17 Jalan untuk Wajah Baru Kota Bandung

Dalam sambutannya, Tri Adhianto mengapresiasi tingginya semangat toleransi yang terus terjaga di tengah masyarakat Kota Bekasi yang beragam.

Ia menekankan bahwa Nyepi bukan sekadar perayaan keagamaan bagi umat Hindu, tetapi juga menjadi momen untuk mempererat hubungan antarumat beragama.

“Perbedaan bukan untuk dipertentangkan, tetapi harus dijaga dengan sikap saling menghormati. Inilah kekuatan Kota Bekasi, di mana nilai toleransi tumbuh dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat,” ungkapnya.

Ia juga berharap momentum Nyepi dapat semakin memperkokoh keharmonisan sosial serta menjaga situasi kota tetap kondusif. Hal ini sejalan dengan komitmen Pemerintah Kota Bekasi dalam merawat keberagaman sebagai fondasi pembangunan.

Di tengah itu, suasana bulan suci Ramadan di Kota Bekasi turut diwarnai nuansa kebersamaan yang kian terasa.

BACA JUGA :  Cara Mengatasi Komentar Spam di Situs Web

Semangat saling menghargai antarumat beragama tercermin dalam berbagai perayaan lintas budaya, mulai dari Cap Go Meh hingga Nyepi.

Kondisi ini memperlihatkan bahwa keberagaman bukan menjadi penghalang, melainkan kekuatan dalam membangun kehidupan sosial yang harmonis.

Meski berada dalam suasana Ramadan, masyarakat tetap memberikan ruang dan penghormatan bagi setiap umat untuk menjalankan ibadah dan tradisinya dengan damai.

.

(Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *